Menjadi Penerjemah yang Baik

Oleh: Leila Razmjou*

Makalah yang disampaikan pada Konferensi Internasional Kedua mengenai “Analisis Wacana Kritis: Pesan Perantara” di Yaman, Universitas Hodeidah, Oktober 2003.

Selain menjadi anggota dari negara kita, kita juga merupakan anggota masyarakat dunia, dan hal ini memberi identitas global kepada kita. Oleh karena itu, adalah hal yang alamiah bagi kita untuk memikirkan persoalan dunia dan bekerjasama untuk menyelesaikan permasalahan dunia. Untuk melakukan hal itu, alat pertama dan yang paling penting adalah “bahasa,” yang ditentukan secara sosial. Kepercayaan dan ideologi kita akan senantiasa tercermin dalam cara kita berbicara, meskipun hubungannya tersembunyi dan hanya “studi bahasa kritis” saja yang dapat mengungkap hubungan-hubungan yang tersembunyi dalam wacana.

Budaya sebuah negara akan berkembang melalui interaksi dengan budaya-budaya lain.

Selanjutnya, kita tahu bahwa budaya sebuah negara akan berkembang melalui interaksi dengan budaya-budaya lain. Keanekaragaman budaya akan membuka mata kita terhadap hak-hak manusia, namun keanekaragaman budaya hanya dapat dikenali melalui diskusi, yang akan membawa kita kembali menuju perangkat utama diskusi: “bahasa.”

Peranan bahasa di dunia yang berkembang terwujud melalui “penerjemahan,” dan dikarenakan studi bahasa sangat berhubungan dengan proses menghasilkan dan menafsirkan teks dan cara proses-proses kognitif tersebut dibentuk secara sosial, hal ini bisa dianggap sebagai sebuah pendekatan alternatif terhadap studi penerjemahan.

Dunia semakin kecil dan kian mengecil saat sistem komunikasi dan informasi berkembang dan menjadi lebih canggih. Dalam proses pertukaran informasi yang cepat tersebut dan demi meningkatkan kontak-kontak budaya, satu hal menjadi tidak terelakkan, yaitu “penerjemahan.” Itulah sebabnya terdapat kebutuhan akan penerjemah dan interpreter yang kompeten.

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, seluruh dunia mengalami perubahan yang kompleks di berbagai area berbeda seperti teknologi dan pendidikan. Perubahan-perubahan ini tentunya memiliki kaitan yang penting dengan sistem pendidikan tinggi, termasuk program pelatihan penerjemah.

Menurut Shahvali (1997), pengetahuan teoritis dan keterampilan praktis saja tidak akan memadai untuk menyiapkan siswa dalam menghadapi perkembangan di lapangan. Terdapat kebutuhan akan kemampuan untuk beradaptasi; oleh karena itu, perlu untuk berfokus pada pembaruan mandiri siswa dan untuk mengembangkan keterampilan mental, komunikasi, dan perencanaan mereka yang relevan.

Melatih penerjemah merupakan sebuah tugas penting yang harus diberi prioritas yang tinggi. Pengabdian yang diberikan oleh para penerjemah untuk meningkatkan kebudayaan dan memelihara bahasa sangatlah signifikan sepanjang sejarah. Para penerjemah merupakan perantara yang memindahkan pesan dari satu bahasa ke bahasa yang lain, sembari mempertahankan ide-ide dan nilai-nilai budaya dan kewacanaan (Azabdaftary, 1996).

Tugas penerjemah adalah menciptakan kondisi di mana penulis bahasa sumber dan pembaca bahasa target dapat berinteraksi satu sama lain (Lotfipour, 1997). Penerjemah menggunakan arti inti yang ada dalam teks sumber untuk menciptakan keseluruhan yang baru, yaitu, teks target (Farahzad, 1998).

Dengan menimbang fakta-fakta ini, yang menjadi pertanyaannya adalah: keterampilan apa yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan penerjemahan? Dan bagaimana seseorang bisa menjadi penerjemah yang baik?

Langkah pertama adalah banyak membaca terjemahan yang berbeda dari jenis teks yang berbeda, karena penerjemahan membutuhkan pengetahuan aktif, sedangkan menganalisa dan mengevaluasi terjemahan yang berbeda membutuhkan pengetahuan pasif. Oleh karena itu, keterampilan reseptif harus dikembangkan sebelum keterampilan produktif, yakni dengan memperkuat pengetahuan pasif mereka, para siswa pada akhirnya dapat meningkatkan pengetahuan aktif mereka. Keterampilan reseptif akan meningkatkan intuisi bahasa siswa dan membuat mereka siap untuk tugas penerjemahan yang sebenarnya.

Seorang penerjemah yang baik adalah seseorang yang memiliki pengetahuan yang komprehensif mengenai bahasa sumber maupun bahasa target. Siswa harus membaca genre-genre yang berbeda baik dalam bahasa sumber maupun bahasa target termasuk sastra modern, prosa kontemporer, surat kabar, majalah, iklan, pengumuman, petunjuk, dan sebagainya. Mengenal semua genre ini sangatlah penting, karena mereka secara tidak langsung memindahkan aspek spesifik budaya bahasa. Membaca topik-topik khusus juga disarankan: membaca artikel dan jurnal yang baru diterbitkan tentang aspek teoritis dan praktis penerjemahan. Artikel-artikel ini tidak hanya akan meningkatkan keterampilan membaca siswa secara umum, namun juga memberi wawasan kepada mereka yang secara tidak sadar diterapkan ketika melakukan penerjemahan yang sesungguhnya.

Kemampuan “menulis”, yakni kemampuan menulis dengan lancar dan benar baik dalam bahasa sumber maupun bahasa target, juga penting. Menulis faktanya merupakan pekerjaan utama seorang penerjemah. Siswa harus mengenal berbagai gaya penulisan yang berbeda serta teknik dan prinsip penyuntingan dan tanda baca baik dalam bahasa sumber maupun bahasa target. Penyuntingan dan tanda baca akan meningkatkan kualitas dan daya baca terjemahan (Razmjou, 2002).

Selanjutnya, calon penerjemah harus memiliki pendengaran yang baik untuk bahasa sumber maupun bahasa target, yakni mereka harus tanggap memilih berbagai ungkapan, idiom, dan kosakata spesifik serta penggunaannya, dan menyimpannya dalam pikiran mereka untuk digunakan nanti. Hal inilah yang kita sebut dengan meningkatkan “intuisi” seseorang. Intuisi bukanlah sesuatu yang dikembangkan tanpa ada kaitannya dengan yang lain; sebaliknya, intuisi membutuhkan latihan. Intuisi bahasa merupakan sebuah keharusan bagi penerjemah yang kompeten.

Salah satu hal yang paling penting untuk dipertimbangkan dalam penerjemahan adalah memahami nilai teks sumber dalam kerangka kerja wacana bahasa sumber. Untuk mengembangkan pemahaman ini, penerjemah harus menyadari perbedaan budaya dan berbagai strategi kewacanaan dalam bahasa sumber dan bahasa target. Oleh karena itu, struktur tersembunyi teks sumber harus ditemukan melalui penggunaan berbagai strategi kewacanaan oleh penerjemah.

Seorang penerjemah yang baik harus mengenal budaya, adat, dan kondisi sosial pembicara bahasa sumber dan bahasa target. Ia juga harus mengenal laras bahasa, gaya berbicara, dan stratifikasi sosial yang berbeda pada kedua bahasa. Kesadaran sosial budaya ini dapat meningkatkan kualitas terjemahan siswa secara signifikan. Menurut Hatim dan Mason (1990), konteks sosial dalam penerjemahan teks mungkin menjadi variabel yang lebih penting dari genrenya. Penerjemahan berlangsung dalam konteks sosial budaya. Konsekuensinya, sangatlah penting untuk menilai kegiatan penerjemahan hanya dalam konteks sosial.

Setelah mengembangkan kompetensi yang baik dalam bahasa sumber maupun bahasa target, penerjemahan yang sebenarnya dapat dimulai. Namun ada tahap pertengahan antara tahap pengembangan kompetensi dan penerjemahan yang sebenarnya: menyadari berbagai sumber penyedia informasi dan belajar cara menggunakannya. Sumber-sumber ini meliputi: kamus satu bahasa dan dwi bahasa yang berbeda, ensiklopedia, dan internet.

Menggunakan kamus merupakan sebuah keterampilan teknis itu sendiri. Tidak semua siswa tahu cara menggunakan kamus dengan benar. Kata-kata memiliki arti yang berbeda dalam konteks yang berbeda, dan biasanya kamus satu bahasa memiliki nilai yang paling tinggi dalam hal ini. Siswa memerlukan banyak latihan untuk menemukan arti kata yang dimaksudkan dalam konteks tertentu dengan menggunakan kamus satu bahasa.

Calon penerjemah juga perlu mengenal sintaksis percakapan tidak langsung dan berbagai bahasa kiasan dalam bahasa sumber seperti hiperbola, ironi, meiosis, dan implikatur. Kesadaran akan bahasa kiasan ini akan memperkuat kreativitas dan mengubah pengetahuan pasif mereka menjadi keterampilan aktif.

Meskipun ada penekanan yang kuat untuk mengembangkan kompetensi bahasa sumber dan bahasa target, cara di mana para siswa dapat mengembangkannya tidak boleh diabaikan. Pekerjaan kelompok dan kerjasama dengan sesama siswa akan selalu membawa proses penerjemahan menuju hasil yang lebih baik. Siswa yang berlatih penerjemahan dengan sesamanya akan dapat menyelesaikan masalah dengan lebih mudah dan juga akan lebih cepat mengembangkan teknik-teknik pengambilan keputusan dan kepercayaan diri (Razmjou, 2002). Meskipun ada kemungkinan berbuat kesalahan selama pekerjaan kelompok, pengalaman membuat, mendeteksi, dan membetulkan kesalahan akan membuat pikiran siswa terbuka dan tanggap.

Hal penting lainnya adalah penerjemah yang berhasil biasanya memilih satu jenis teks tertentu untuk diterjemahkan dan terus bekerja di area itu saja; sebagai contoh seorang penerjemah mungkin hanya menerjemahkan karya sastra, buku ilmiah, atau teks jurnalistik saja. Bahkan saat menerjemahkan karya sastra, beberapa penerjemah bisa memilih hanya menerjemahkan puisi, cerita pendek, atau novel. Bahkan jauh lebih spesifik dari itu, beberapa penerjemah memilih penulis tertentu dan hanya menerjemahkan karya mereka saja. Alasannya adalah semakin banyak mereka menerjemahkan karya penulis tertentu, mereka akan semakin mengenal pikiran, cara berpikir, dan gaya penulisannya. Dan semakin seorang penerjemah mengenal gaya penulisnya, terjemahannya akan semakin baik.

Penerjemahan perlu dipraktekkan di sebuah lingkungan akademik di mana calon penerjemah mengerjakan tugas-tugas praktek di bawah pengawasan guru mereka maupun aspek-aspek teoritis untuk meningkatkan pengetahuan mereka. Di lingkungan akademik, artikel, jurnal dan buku yang baru diterbitkan mengenai penerjemahan tersedia bagi calon penerjemah, yang selanjutnya akan mengenal penerjemah yang baik dan karya mereka dengan membacanya dan membandingkannya dengan teks aslinya. Dengan cara ini, calon penerjemah akan mengembangkan kekuatan pengamatan, wawasan, dan pengambilan keputusan, yang selanjutnya akan meningkatkan motivasi mereka dan memperbaiki kemampuan penerjemahan mereka.

Oleh karenanya, studi penerjemahan kini telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu yang penting dan telah menjadi sebuah program studi yang independen, terpisah dari studi bahasa asing di perguruan tinggi. Hal ini mencerminkan diakuinya fakta bahwa tidak semua orang yang mengetahui bahasa asing dapat menjadi penerjemah, sebagaimana yang telah salah dipercayai secara umum. Penerjemahan merupakan kunci menuju pemahaman internasional. Jadi di dunia luas komunikasi dan informasi yang kelebihan beban ini, kita memerlukan penerjemah kompeten yang memiliki pengetahuan teoritis maupun keterampilan praktis untuk melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Pentingnya pengetahuan teoritis ada pada fakta bahwa hal itu membantu penerjemah memperoleh pemahaman tentang bagaimana pilihan-pilihan linguistik dalam teks mencerminkan hubungan lain antara pengirim dan penerima, seperti hubungan kekuasaaan, dan bagaimana teks terkadang digunakan untuk memelihara atau menciptakan ketidaksetaraan sosial (Fairclough, 1989).

Terakhir, penting untuk diketahui bahwa diperlukan lebih dari sekedar kamus untuk menjadi penerjemah yang baik, dan penerjemah tidak dibuat hanya dalam waktu semalam. Menjadi penerjemah yang baik membutuhkan investasi yang besar baik dalam bahasa sumber maupun bahasa target. Ini merupakan salah satu tugas paling menantang untuk beralih dengan aman dan tepat antara dua jagad wacana. Hanya penanganan pendidikan penerjemahan secara canggih dan sistematis sajalah yang dapat menghasilkan pengembangan penerjemah yang berhasil. Dan bagian paling sulit dari perjalanan ini dimulai ketika calon penerjemah meninggalkan perguruan tinggi mereka.

*Sarjana Penerjemahan Inggris, Master dalam Linguistik Terapan (TEFL), Iran

Sumber: www.seasite.niu.edu